Bakorwil V : Pentingnya mitigasi dan sosialisasi potensi resiko di Kawasan Rawan Bencana

Bakorwil V : Pentingnya mitigasi dan sosialisasi potensi resiko di Kawasan Rawan Bencana

Gambar : BAKORWIL V dan BPBD Kota Probolinggo saat berada dilokasi evakuasiErupsi Gunung Semeru Kab. Lumajang

Bakorwil V Jember menekankan pentingnya mitigasi serta sosialisasi terkait potensi resiko di kawasan rawan bencana (KRB). Mengingat masih banyak warga masyarakat yang tidak mengindahkan himbauan petugas untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diperlukan seperti swafoto saat berada di lokasi KRB. Temuan ini didasari oleh pernyataan Kalaksa BPBD Kota Probolinggo saat turun ke lokasi bersama tim Relawan membantu proses evakuasi warga terdampak didusun Kajar Kuning Desa Sumber Wuluh Kec. Candipuro Kabupaten Lumajang.

“.. ini benar, dan memang seharusnya perlu adanya sosialiasi kepada semua pihak bahwa masih ada potensi resiko di area (kawasan) rawan bencana seperti ini. Maka saya mendukung dan mengapresiasi langkah Bapak (Kalaksa) bersama tim untuk membantu mengurangi resiko dengan cara membatasi ruang gerak siapapun yang tidak berkepentingan dikawasan ini yang telah ditetapkan sebagai Zona Merah..” ungkap Choirul Anwar Kabid. Pemerintahan Bakorwil V jember.

Senada dengan hal tersebut, Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menyampaikan bahwa saat ini sudah mulai muncul adanya fenomena “Wisata Bencana” yang dapat menimbulkan masalah karena mereka yang tidak mengetahui ada potensi bahaya saat berada dilokasi KRB.

Kalaksa bersama tim TRC BPBD dan relawan mengimbau warga atau siapapun yang tidak memiliki kepentingan, untuk meninggalkan area lokasi karena masih sangat membahayakan baik diri sendiri, petugas evakuasi korban dan dapat menimbulkan kemacetan dijalur evakuasi.

“Biasanya masyarakat yang datang ke lokasi daerah bencana bukan warga lokal. Saya meminta kepada mereka secara humanis yang nekat datang untuk putar balik bila tidak berkepentingan darurat karena itu sangat mengganggu petugas pencarian (SAR),” pungkasnya.

Sementara itu Satgas KAMDES Sumberwuluh membenarkan bahwasanya dilokasinya banyak pengunjung yang bukan warga lokal (terdampak) sebagian banyak yang foto-foto. Selain itu satgas juga mendapatkan laporan banyak asset warganya yang hilang mulai dari uang tunai, hewan ternak hingga perabot rumah.

Menurut data BNPB per 7 Desember 2021, Erupsi Gunung Semeru ini mengakibatkan 34 orang Meninggal Dunia, 17 orang dilaporkan (masih) hilang, dan 56 orang luka-luka. Dan menurut pantauan sementara tim dilapangan, banyak warga yang sudah mulai mengevakuasi harta benda termasuk hewan ternak. Mereka khawatir saat guguran awan panas selanjutnya para warga ini tidak dapat mengevakuasi harta bendanya karena sudah tertimbun debu vulkanik.

Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas Guguran Gunung Semeru menyebutkan bahwa warga yang mengungsi berjumlah 4.250 jiwa, yang tersebar pada beberapa titik di Kabupaten Lumajang dan hanya ada 1 titik, masing-masing di Kabupaten Malang dan Blitar.

Berikut ini rincian distribusi penyintas di beberapa wilayah Kabupaten Lumajang. Jumlah warga mengungsi di Kecamatan Candipuro 1.733 jiwa, Pasirian 974, Tempeh 400, Pronojiwo 295, Lumajang 199, Pasrujambe 197, Sukodono 191, Sumbersuko 67, Jatiroto 56, Yosowilangun 28, Ranuyoso 26, Rowokangkung 16 dan Gucialit 8.

Tim SAR gabungan masih melakukan operasi pencarian warga hilang. Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) di bawah koordinasi Basarnas ini menargetkan waktu pencarian korban selama satu minggu. Hal tersebut disampaikan Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf. Irwan Subekti dalam konferensi pers pada hari ini, Selasa (7/12).

Irwan Subekti yang juga menjadi Komandan Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas Guguran Gunung Semeru menyampaikan korban yang masih dinyatakan hilang berjumlah 22 orang. Upaya pencarian difokuskan di Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh dan wilayah Desa Curah Kobokan. Lebih lanjut dalam operasi pencarian, Irwan mengatakan tim gabungan sangat memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan di lapangan.

“Pencarian pagi hingga sore dengan memperhatikan cuaca di Lumajang. Hampir setiap hari, setiap sore rata-rata turun hujan. Upaya pencarian sangat dipengaruhi kondisi hujan di lapangan,” ujarnya.

Upaya pencarian warga yang masih dinyatakan hilang akan mengoptimalkan kemampuan para personel di lapangan, yang juga dibantu dengan alat berat. Ia pun selalu mengingatkan kewaspadaan terhadap kondisi material vulkanik yang masih panas dan kondisi hujan di puncak gunung agar terhindar dari banjir lahar dingin.

Pada kesempatan itu, posko memprioritaskan pada operasi pencarian dan penanganan warga yang mengungsi. Terkait dengan penambang pasir yang hilang, pihaknya akan memastikan identitas korban yang saat ini masih dalam proses identifikasi. Dari jumlah korban meninggal sebanyak 34 orang, 10 di antaranya belum teridentifikasi. (CNN)

diolah dari berbagai sumber
Erupsi Gunung Semeru, BPBD Terjunkan Tim dan Dukungan Logistik

Erupsi Gunung Semeru, BPBD Terjunkan Tim dan Dukungan Logistik

 

Sesuai dengan petunjuk serta arahan Walikota Probolinggo Habib Hadi Zaenal Abidin (baca : BPBD Kota Probolinggo bantu korban erupsi Gunung Semeru), pada hari Sabtu 4 Desember 2021 BPBD Kota Probolinggo menerjukan tim awal guna membantu tim assessment BPBD lumajang dan BPBD Provinsi Jatim guna mempercepat langkah pertolongan dan evakuasi serta menentukan peralatan dan logistik yang akan dibawa tim berikutnya. Tim yang dipimpin langsung oleh Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo juga menerjunkan 2 personil TRC dan 2 personil Relawan Rescue. Sementara itu dukungan logistik antara lain 5 buah terpal, 10 buah tikar, 28 buah selimut, 3 dus lauk pauk, 2 dos makanan siap saji, 2000 buah masker dan 20 buah matras diangkut dengan armada rescue BPBD.

Saat tiba dilokasi dusun Kamar Kajang Candipuro pukul 22.30 WIB, Kalaksa langsung berkoordinasi dengan  Bupati Lumajang dan Kalaksa BPBD Jawa Timur. Bupati Lumajang Thoriqul Haq menyampaikan bahwasanya saat ini Lumajang membutuhkan relawan untuk membantu mengeavakuasi warga yang masih bisa diselamatkan. Berdasarkan laporan tim penyelamat, saat (malam) ini evakuasi penyelematan tidak dapat dilanjutkan karena cuaca dan sudah terlalu malam.

Tim selanjutnya bergerak menuju balai desa Sumber Wuluh dimana (sebagian) pengungsi ditampung. Bantuan yang diserahkan kepada posko setempat antara lain matras serta selimut.

Sembari para relawan menurunkan bantuan di posko pengungsi desa Sumber Wuluh, Kalaksa BPBD Kota Probolinggo beserta rombongan Bupati Lumajang, Kalaksa BPBD Jatim menuju ke kantor Kecamatan Candipuro guna melaksanakan Rapat Korrdinasi bersama Muspika Kabupaten Lumajang.

Dalam rapat Koordinasi yang dipimpin langsung oleh Bupati Lumajang, menghasilkan beberapa poin diantaranya :

 

  1. Untuk koordinator Kegiatan ditunjuk Dandim 0821 Lumajang dengan Kapolres Lumajang sebagai Wakil Koordinator.
  2. Masa Evakuasi (Pencarian Korban) ditetapkan 7 (tujuh) hari dengan koordinator Basarnas.
  3. Logistik serta bantuan kemanusian akan segera didistibusikan ke warga pengungsi.

 

Kalaksa BPBD Kota Probolinggo menyampaikan bahwa kedepan akan ditambah daya dukung serta bantuan setelah berkoordinasi dengan stake holder setempat. Salah satu rencananya adalah melibatkan PMI Kota Probolinggo untuk tambahan relawan dan bantuan logistik untuk korban/ pengungsi. (CNN)

 

BPBD Beri Edukasi tentang Keselamatan dan Keamanan di Destinasi Wisata

BPBD Beri Edukasi tentang Keselamatan dan Keamanan di Destinasi Wisata

 

Pelatihan Keamanan dan Keselamatan di Destinasi Pariwisata/ Daya tarik Wisata diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (DISPORA) Kota Probolinggo pada tanggal 24 – 25 Nopember 2021. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, motivasi, dan kemampuan para pengelola destinasi/ daya tarik wisata dalam melaksanakan keamanan dan keselamatan di destinasi/ daya tarik wisata. Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo, S.STP,. MM. dalam kesempatan tersebut memberikan materi tentang Potensi Bencana diKota Probolinggo.

“..Setidaknya ada 5 (lima) Potensi Bencana yang akan dihadapi oleh Kota Probolinggo, inilah yang menurut kami (BPBD) rekan-rekan pegiat destinasi wisata perlu siap siaga terhadap berbagai hal kemungkinan yang ditimbulkan oleh salah satu potensi bencana, misalnya (bencana) banjir..” ungkap Sugito.

Kalaksa juga menyampaikan bahwasanya pada saat ini merupakan masa dimana Indonesia mengalami fenomena alam yang dikenal dengan “LA NINA”. Yaitu kondisi (fenomena) dimana curah hujan cukup tinggi dan menurut prediksi BMKG Puncak curah hujan tertinggi akan terjadi pada bulan Februari hingga Maret 2022. Oleh karena itu kita semua perlu segera menyiapkan diri guna mengurangi resiko saat terjadinya bencana. Termasuk dalam hal ini para pengelola destinasi wisata.

“.. Salah satu upaya mengenali dan mempersiapkan diri untuk menghadapi bilamana bencana sewaktu-waktu terjadi adalah dengan BERSAHABAT dengan BENCANA…” imbuh Kalaksa.

 

Kasi Destinasi Wisata DISPORA Kota Probolinggo Endang Novi Atitik, S,Sos., MM. mengungkapkan pelatihan yang diselenggarakan di Bale Hinggil ini melibatkan perwakilan pengelola tempat wisata dan kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang ada di Kota Probolinggo. Novi menyebutkan, pelatihan ini diharap dapat meningkatkan skill pengelola wisata dan pokdarwis dalam menjaga kenyamanan dan keselamatan para wisatawan serta menciptakan iklim yang membuat wisatawan ingin kembali lagi berwisata di Kota Probolinggo.

“Kegiatan ini kami gelar hingga 2 (dua) hari ke depan. Harapannya adalah bagaimana pengelola pariwisata yang ada bisa memahami dalam memberikan pelayanan, keamanan, keselamatan yang maksimal kepada wisatawan. Kami berharap setelah pelatihan ini selesai, mereka sudah dapat menerapkan ilmu yang mereka dapatkan disini,” jelas Novi.

PRAKTISI “KESELAMATAN & KEBENCANAAN” BERI PENGUATAN MATERI TENTANG SOP

Sementara itu, DISPORA turut menghadirkan praktisi yang memiliki kompetensi tentang Rescue (penyelematan) dan pemerhati masalah Kebencanaan Mohammad Anshori. Trainer Level 4 BNSP ini memberikan materi tentang Standart Operational Procedure (SOP) untuk destinasi wisata. Bang Ori – sapaan akrabnya menjelaskan bahwa SOP untuk tempat wisata harus merujuk pada perundang-undangan yang berlaku. Sementara itu banyak lokasi atau destinasi wisata di Kota Probolinggo yang belum melengkapi administrasi tata kelola salah satunya adanya SOP. Sehingga jika suatu tempat wisata terjadi sebuah kejadian yang mengakibatkan pengunjung wisatanya terdampak akan membuat pengelola (tempat wisata) kesulitan mengaudit sistem pengelolaan.

Dalam pelatihan kali ini, Bang Ori menjelaskan perlunya disusun sebuah SOP pengelolaan destinasi wisata yang bertujuan memberikan rasa aman dan nyaman pengunjung destinasi wisata.

Lebih lanjut Ori mengatakan, keamanan dan keselamatan menjadi hal yang penting, sebab dapat menarik daya tarik wisata. Jika wisatawan merasa aman selama di lokasi wisata, tidak akan menutup kemungkinan mereka akan datang kembali.

“Namun jika sebaliknya mereka tidak merasa aman maka mungkin mereka tidak akan datang kembali” katanya.

 

KUNJUNGAN LAPANGAN KE SUMBER SENTONG

Pada keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktek dan diskusi terkait materi yang disampaikan oleh BPBD dan narasumber lainnya. BPBD menerjunkan tim TRC dan relawan memberikan praktek penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Masing-masing peserta diberikan kesempatan untuk mencoba memadamkan api dengan menggunakan APAR didampingi oleh instruktur dari BPBD.

Sementara itu Mohammad Anshori yang juga Relawan dari Probolinggo Response Rescue (PRR) memberikan materi praktek “Penyelamatan di Air” atau lebih dikenal dengan Water Rescue. Peserta diberikan penjelasan bagaimana cara menyelamatkan korban di air dengan mengunakan alat bantu penyelamatan. Diakhir sesi kegiatan, dilakukan sharing session terkait materi Keselamatan dan Keamanan Di Destinasi Pariwisata. (CNN)

Quick Respon Walikota, Salurkan Bantuan Untuk Korban Kebakaran

Quick Respon Walikota, Salurkan Bantuan Untuk Korban Kebakaran

 

Tak perlu menunggu lama Walikota Probolinggo Habib Hadi Zaenal Abidin langsung memberikan bantuan kepada masyarakat korban kebakaran di Kelurahan Sumbertaman pada hari Sabtu (27/11/2021). Habib Hadi sebagaimana dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Probolinggo akan berupaya membantu pengurusan dokumen kependudukan KTP, KK dan lain-lain yang juga turut terbakar selain bangunan rumahnya. “Kami akan bantu bagaimana caranya surat-surat keterangan KTP, KK ini bisa kita keluarkan lagi terus kita bantu proses surat surat berharga lainnya,” kata Habib Hadi.

Selain itu untuk perbaikan rumah, Walikota akan mengupayakan bantuan dari BTT (Bantuan Tidak Terduga) BPBD. “Kami alokasikan anggaran dari BTT, tentunya prosedur dan alur harus diikuti,” imbuh WaliKota.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Pusdalops BPBD Kota Probolinggo, musibah Kebakaran ini mengakibatkan 4 (empat) rumah menjadi sasaran si jago merah. Para korban antara lain Sunam (75), Budiyono (40), Sudi (35) dan Misno (60) merupakan warga RT.01 RW.06 Blok Mantong Kelurahan Sumbertaman Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo.

Saat meninjau lokasi, Walikota Probolinggo didampingi oleh Kasi. K/L Yudha Arisandhy serta Kasi. R/R BPBD Kota Probolinggo Sholehuddin Ayyub bersama beberapa relawan PB (Penanggulangan Bencana) Camat Wonoasih, Lurah Sumbertaman dan anggota dari unsur 3 pilar. Sampai dengan berita ini disusun, tim BPBD masih melakukan assesment terkait JITUPASNA (Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana).

Sementara itu pada kegiatan kunjungan Walikota ini, BPBD telah menyalurkan bantuan berupa Tenda, Tikar, Selimut, Paket Makanan Siap saji beserta Perlengkapan Makan untuk para korban terdampak.

Selain BPBD, beberapa tim dari Kementerian Sosial dan PMI juga turut memberikan bantuan kepada para korban terdampak.

Para korban untuk sementara ini mengungsi ke beberapa rumah kerabat dan warga sekitar sudah mulai bergotong royong membersihkan puing-puing sisa kebakaran.

DISTRIBUSI BANTUAN UNTUK KORBAN KEBAKARAN KEDUNGGALENG

Masih di hari yang sama, BPBD bersama relawan juga telah mendistribusikan bantuan untuk korban kebakaran di Jl Manggis RT 3 RW 2 Kedunggaleng Kec. Wonoasih Kota Probolinggo. Kebakaran yang menimpa rumah warga ini mengakibatkan 1 (satu) keluarga terdampak.

Dalam penyaluran bantuan, tim didampingi langsung oleh Camat Wonoasih serta Seklur Kedunggaleng. Bantuan yang diberikan dalam bentuk terpal, tikar, selimut hingga makanan siap saji. Tim juga akan melaksanakan JITUPASNA untuk membantu korban memperbaiki rumahnya yang rusak karena terbakar.

BPBD Kota Probolinggo terus menerus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait bagaimana mencegah bahaya kebakaran dan juga bagaimana menghadapi fenomena iklim “LA NINA” agar dapat meminimalkan jumlah korban terdampak. (CNN)

Bantu Korban Terdampak, BPBD Gelar Pelatihan Trauma Healing

Bantu Korban Terdampak, BPBD Gelar Pelatihan Trauma Healing

 

Sabtu (20/11/2021) Bertempat di aula serbaguna BPBD Kota Probolinggo digelar Seminar Edukasi Hipnotis & Trauma Healing dengan menghadirkan Arief Firmansyah B, S.H.,C.Ht.,C.L. seorang praktisi Hipnoteraphy.  Kegiatan yang menitikberatkan pada upaya pemulihan pasca bencana bukan hanya berfokus pada hal fisik namun juga dilakukan kegiatan rehabilitasi pemulihan mental psikologi yang salah satunya yaitu Pemulihan Psikososial / Trauma Healing bagi warga yang terdampak bencana dengan metode Hipnotis. Demikian uraian yang disampaikan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Probolinggo melalui Kasie. Rehabilitasi dan Rekonstruksi (R/R) Sholehudin Ayyub, S.Sos saat dikonfirmasi tim media.

Kegiatan ini melibatkan setidaknya 50 orang dari berbagai kalangan termasuk relawan yang berorientasi pada Kebencanaan. Masih menurut Kasi R/R, kegiatan perdana ini bertujuan mengenalkan kepada masyarakat bahwasanya metode Hipnotis dapat membantu siapapun yang memiliki masalah psikologis. Salah satu upaya yang dilakukan bagaimana metode Trauma Healing dapat diberikan kepada korban terdampak disebuah kejadian bencana. Karena kita tahu sebenarnya para korban terdampak bukan hanya merasakan kehilangan harta benda namun juga perasaan ataupun mental.

Ayyub menambahkan, kegiatan ini kedepannya akan diprogram dan lebih dikembangkan agar para relawan dapat menimba ilmu lalu dapat mengaplikasikannya saat dibutuhkan dalam suatu kegiatan pasca bencana.

Dalam kurun waktu kurang lebih sekitar 4 jam, Kegiatan yang digagas BPBD Kota Probolinggo bekerjasama dengan Mind Management (M2) tampak antusian peserta yang mengikuti hingga acara berakhir.

 

Sementara itu, Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo saat membuka kegiatan ini memberikan apresiasi serta menyampaikan rasa bangga atas digelarnya kegiatan ini. Menurutnya kegiatan ini dapat membantu relawan dalam meningkatkan kapasitasnya terutama hal-hal yang difokuskan pada kegiatan pasca Bencana.

Kalaksa berharap dengan adanya peran serta aktif masyarakat dalam kegiatan ini juga dapat diaktualisasikan pada kegiatan penanganan pasca bencana bekerjasama dengan BPBD selaku pengampu bidang Kebencanaan.

Diakhir sambutannya, Kalaksa mengutip hadits

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

“… Marilah dalam kesempatan yang baik ini, kami mengajak yang hadir disini untuk setidaknya bisa memberikan manfaat untuk orang lain..” harap Sugito. (CNN)

 

Kalaksa beri penguatan pada Kampung Tangguh Kelurahan Jrebeng Kidul

Kalaksa beri penguatan pada Kampung Tangguh Kelurahan Jrebeng Kidul

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menjadi narasumber dalam acara ” AUDENSI BERSAMA WALIKOTA” dengan tajuk PENGUATAN KAMPUNG TANGGUH di Kelurahan Jrebeng Kidul Kecamatan Wonoasih pada hari Selasa (16/11/2021). Dihadapan para punggawa Kampung Tangguh Semeru tingkat kelurahan Kalaksa menyampaikan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menghadapi bencana karena saat ini penanggulangan Bencana bukan hanya tugas pemerintah semata namun juga tugas berbagai elemen termasuk masyarakat.

Acara yang dikemas santai lagi hangat ini juga diselingi dengan humor membuat para peserta antusias mendengarkan pemaparan Kalaksa. “… Saya baru sekali ini merapat ke Kelurahan Jrebeng Kidul namun (sepertinya) saya sudah terpikat, terbukti saya dapat merasakan aura-aura positif dari Bapak Ibu yang hadir… ” kelakar Sugito sembari menyapa pejabat yang turut mendampingi.

 

Turut hadir dan mendampingi Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Camat Wonoasih, Lurah Jrebeng Kidul serta Babinsa Wonoasih.

Kalaksa juga memberikan motivasi kepada para perwakilan warga Jrebeng Kidul bahwasanya Kelurahan Jrebeng Kidul kedepan nantinya akan di proyeksikan menjadi “Kelurahan Tangguh Bencana” bersama dengan kelurahan lain yang telah lebih dulu menjadi Kelurahan Tangguh Bencana. Kalaksa berharap Kelurahan Jrebeng Kidul dapat belajar dari kelurahan lain yang telah menyandang “Kelurahan Tangguh Bencana”.

Dalam kesempatan ini – Perwakilan Warga Kelurahan Jrebeng Kidul memberikan dukungan kepada Pemerintah dalam hal bersama-sama mengajak potensi masyarakat untuk mengurangi resiko bencana. “… Apapun yang diminta pemerintah, kami (masyarakat :red) siap melaksanakan dengan sepenuh hati …” ucap Agus.

 

TIPE (KERAWANAN) BENCANA KOTA PROBOLINGGO

Masih dalam acara yang sama, Kalaksa menjelaskan tipe-tipe bencana secara umum yakni bencana alam, bencana non-alam dan bencana sosial. Untuk bencana alam, menurutnya, Kota Probolinggo memiliki 5 potensi bencana alam diantaranya bencana banjir, bencana angin puting beliung, bencana banjir air rob, bencana kebakaran, bencana erupsi gunung berapi.

Hasil kajian BMKG menyebutkan prediksi akan adanya fenomena La Nina yang menyebabkan tingginya intensitas curah hujan 30% sampai 70%, Kalaksa berharap Kota Probolinggo selalu aman dan terhindar dari musibah. “Mari kita berdoa bersama, kita mengingatkan diri agar Kota Probolinggo terhindar dari bencana hidrometeorologi, tentunya juga perlu aktivitas nyata, diawali dari kampung tangguh ini,” harap kalaksa.

Selain itu pula Kalaksa juga mengajak masyarakat untuk “BERSAHABAT” dengan Bencana. Mengapa ?? Karena dengan bersahabat kita akan lebih mudah mengenali dan mengantisipasi diri jika sewaktu-waktu bencana terjadi yang kemudian dikenal istilah MITIGASI BENCANA.

Paparan terkait tipe kerawanan bencana di Kota Probolinggo ini merupakan pengantar sambutan Kalaksa BPBD Kota Probolinggo saat mendampingi Walikota Habib Hadi Zaenal Abidin dalam Audensi Bersama Walikota dengan Tema Penguatan Kampung Tangguh.

 

Walikota dalam arahannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan masyarakat khususnya warga kampung tangguh dalam menghadapi COVID-19. Walikota juga menyampaikan bahwasanya saat ini Kota Probolinggo masuk dalam kategori PPKM Level II. Menurutnya, upaya Kota Probolinggo untuk masuk dalam kriteria Level I PPKM harus didorong salah satunya mengupayakan percepatan Vaksin untuk LANSIA.

“Kampung Tangguh ini harus punya target, targetnya adalah vaksinasi lansia, supaya kita bisa masuk ke level 1,” kata Habib Hadi.

Habib Hadi juga menyinggung masalah musim hujan yang sudah mulai dirasakan oleh masyarakat Kota Probolinggo. Walikota menghimbau Kampung Tangguh untuk lebih sensitif terhadap ancaman bencana banjir.

“Apalagi sekarang ini masuk dalam cuaca hujan ya, kita harus menjadi multifungsi kampung tangguh ini, mana daerah-daerah yang rawan banjir, bagaimana caranya tidak banjir, kampung tangguh harus hadir,” imbau Habib Hadi.

Selanjutnya jika masyarakat memerlukan bantuan peralatan dalam rangka mitigasi bencana, pemerintah siap untuk mengupayakan.

“Silahkan kampung tangguh punya ide-ide kreatif, kita akan support alat alatnya, itu yang paling penting, jadi kampung tangguh ini, warganya harus bisa hadir di semua sektor,” lanjut walikota.

 

 

Disela acara, Walikota memberikan bantuan Protokol Kesehatan berupa masker dan sabun kepada salah satu perwakilan warga Kelurahan Jrebeng Kidul.

Curah hujan diwilayah selatan tinggi, BPBD pantau debit air sungai

Curah hujan diwilayah selatan tinggi, BPBD pantau debit air sungai

Pada hari Selasa (16/11/2021) curah hujan diwilayah selatan Kota Probolinggo terindikasi mulai meningkat sejak pukul 16.00 WIB,  BPBD Kota Probolinggo menyiapkan beberapa langkah antispisasi dini diantaranya dengan memeriksa langsung ketinggian serta debit air dibeberapa titik sungai yang menjadi “langganan” aliran banjir. Berdasarkan citra radar BMKG untuk wilayah diselatan Probolinggo tepatnya diKecamatan Bantaran dan sekitarnya terpantau hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.

Akibatnya debit air kali bades terpantau meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas hujan diwilayah selatan Kuripan Probolinggo.

Kalaksa BPBD Kota Probolinggo melalui Pusdalops memerintahkan tim relawan untuk segera memeriksa debit dan ketinggian air dibeberapa sungai yang kerap dilewati aliran air dengan volume besar. Tim relawan ini diposisikan dibeberapa titik rawan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Beberapa titik rawan aliran sungai yang melintas di Kota Probolinggo, antara lain :

  1. DAM Kali Kedunggaleng di Kelurahan Kedunggaleng Kecamatan Wonoasih
  2. Kali Bungor di Kelurahan Kedungasem Kecamatan Wonoasih
  3. Jembatan Kedungasem diKelurahan Kedungasem Kecamatan Wonoasih
  4. DAM Keleb di Kelurahan Kareng Lor Kecamatan Kedopok

 

DAM KALI KEDUNGGALENG

Pantauan tim saat tiba dilokasi DAM Kali Kedunggaleng Kecamatan Wonoasih pada pukul 18.15 WIB terpantau aliran air masih dalam ambang batas aman. Bahkan tampak beberapa warga yang masih mencari ikan ditepi sungai.

 

 

 

 

 

 

 

 

JEMBATAN KALI BUNGOR

Setelah dari Kedunggaleng, tim bergerak menuju jembatan yang melintas diatas kali Bungor Kelurahan Kedungasem Kecamatan Wonoasih. Saat itu terpantau aliran air dengan debit cukup namun masih dalam ambang batas aman. Beberapa relawan sudah tampak siaga dan terus memonitor kondisi kali Bungor.

 

 

 

 

 

 

 

JEMBATAN KEDUNGASEM

Masih di Kecamatan yang sama yakni Wonoasih, tim bergerak menuju jembatan Kedungasem dimana diwilayah tersebut terdapat 2 kawasan rawan bencana (banjir) yakni di RW. 05 dan RW. 07 Kelurahan Kedungasem. Diatas jembatan ini masih terpantau air dari barat jembatan sudah mulai menurun seiring cuaca diwilayah selatan probolinggo berangsur cerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAM KELEB SUMBERKARENG

Ini merupakan lokasi terakhir dimana pantauan debit air untuk memastikan bahwa area Kota Probolinggo sementara ini masih dalam keadaan AMAN dan Terkendali. DAM yang terletak di Kelurahan Kareng Lor Kecamatan Kedopok ini tidak menunjukkan aliran air yang mengkhawatirkan.

 

REHAB RUMAH SELESAI, SRI WAHYUNI GELAR TASYAKURAN

REHAB RUMAH SELESAI, SRI WAHYUNI GELAR TASYAKURAN

Sri Wahyuni (40) penyintas yang sempat diberitakan atap rumahnya nyaris roboh akhirnya bisa tersenyum kembali pasca rehabilitasi rumah yang dihuni selama ini dinilai tak layak dan dalam kondisi memprihatinkan. Sri bersama warga sekitar menggelar tasyakuran sebagai wujud rasa syukur atas telah selesainya proses perbaikan rumah.

 

TIM GABUNGAN BPBD DITERJUNKAN UNTUK BANTU EVAKUASI

Setelah mendapatkan informasi dari masyarakat melalui jejaring media online, Walikota Probolinggo memerintahkan jajaran terkait untuk segera mengambil langkah-langkah strategis untuk membantu mengatasi kesulitan warganya yang sedang tertimpa musibah. Pemerintah dalam hal ini BPBD Kota Probolinggo segera melaksanakan tupoksi yang telah diamanatkan oleh Undang-undang yakni melakukan assesment, menyusun rencana operasi hingga mengamankan penyintas ke HUNTARA (Hunian Sementara).
Sebagai upaya tanggap darurat, pada tanggal 30 September 2021 – BPBD Kota Probolinggo menerjunkan tim gabungan yang melibatkan TRC (Tim Reaksi Cepat) BPBD dan relawan yang tergabung dalam MRP (Masyarakat Relawan Probolinggo). Operasi Kemanusiaan ini digelar bertujuan untuk mengamankan sebagian asset rumah yang masih dapat diselamatkan sembari menunggu proses perbaikan yang akan dilaksanakan kemudian.

DUKUNGAN MORIL DAN MATERIIL SESAMA WARGA BANTU PERCEPAT REHAB HUNIAN

Berdasarkan assesment yang dilakukan oleh BPBD, rumah warga yang terletak dikelurahan Sukabumi Kecamatan Mayangan ini memerlukan perbaikan menyeluruh dibagian atap dan sebagian pada struktur rumah yang lain. Sumber pembiayaan pada kegiatan ini berasal dari BTT (bantuan tidak terduga) Pemerintah Kota Probolinggo.


Namun berkat rahmah Allah SWT, LPM Kelurahan Sukabumi bersama warga sekitar mampu menghimpun donasi dari berbagai pihak sehingga pembiayaan Rehabilitasi Hunian ini dapat tertangani. Dukungan ini menandakan bahwa ternyata Kota Probolinggo masih memiliki “Orang Baik” dan masih terjaganya budaya saling membantu antar sesama.
Selain itu, target waktu pekerjaan (Rehab) yang dijadwalkan berlangsung selama 30 hari kerja dapat diselesaikan dalam waktu 20 hari kerja. Menurut Bambang Heriyadi (65) Ketua RT setempat, rehab yang dilakukan ini telah melampaui target dari yang direncanakan. Rencana semula hanya membenahi beberapa bagian rumah yang rusak namun ternyata rehab hunian menyentuh hingga ke wilayah sanitasi dan sarana pendukung lain.

KONDISI PSIKOLOGIS PENYINTAS BERANGSUR MEMBAIK

Saat BPBD Kota Probolinggo mendatangi lokasi dan bertemu dengan Sri Wahyuni – Tim bersama ketua RT lalu menanyakan bagaimana perasaan dirinya setelah menghuni dirumah yang telah diperbaiki, dijawab dengan gesture (gerak tubuh) senang dan bahagia namun hanya tampak mata berkaca-kaca tanpa berkomentar sepatah dua patah kata.


Menurut warga, kondisi Sri sudah mulai membaik ditandai dengan sudah dapat berkomunikasi dan tidak mudah (meledak) emosinya. Diakhir perbincangan ketua RT mewakili keluarga penyintas menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kota Probolinggo, Lurah Sukabumi, LPM kel. Sukabumi serta para donatur yang telah membantu memperbaiki rumah salah satu warganya. (CNN)

Prediksi Dampak La Nina dari BMKG, BPBD Siaga Hadapi Bencana

Prediksi Dampak La Nina dari BMKG, BPBD Siaga Hadapi Bencana

 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyarankan pemerintah daerah segera mempersiapkan lingkungannya untuk waspada dampak La Nina. Sebab nilai anomali iklim global di Samudera Pasifik telah melewati ambang batas La Nina yakni mencapai -0,61°C. Ambang batas kategori La Nina hanya -0,5°C. Berkaca pada tahun lalu, ancaman La Nina menjadi 70 persen.

BMKG memprediksi La Nina akan terjadi dalam intensitas lemah hingga moderat hingga Februari 2022. Kajian BMKG menunjukkan curah hujan meningkat di beberapa daerah seperti Jawa, Bali, NTT, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian selatan.

Hampir 20 persen zona musim di wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan, antara lain: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Pulau Seram.

Fenomena La Nina akan meningkatkan curah hujan yang mendorong juga naiknya potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati seperti dilansir Antara, Jumat (29/10/2021).

 

Pentingnya Peringatan Dini

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ganip Warsito menegaskan pentingnya peringatan dini dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang meningkat akibat fenomen La Nina yang diprakirakan akan bertahan sampai Februari 2022.

“Demikian pentingnya peringatan dini sehingga saya bermohon kepada Kepala BMKG untuk bisa memberikan informasi, syukur-syukur bisa lebih detial untuk bisa dijadikan pedoman kita dalam mengambil langkah tindakan yang cepat dan tepat,” kata Ganip dalam Rapat Koordinasi Antisipasi La Nina yang diadakan BMKG, dipantau secara virtual pada Jumat (29/10/2021).

Ganip menyebut peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG menjadi salah satu referensi untuk ditindaklanjuti di lapangan. Meski demikian, masih terdapat “missing link” atau sambungan yang hilang antara informasi yang disampaikan terkait peringatan dini dan respons oleh masyarakat.

“Ini memang perlu kita carikan solusi ke depannya sehingga kita bisa betul-betul antara informasi dari BMKG bisa diperoleh serinci mungkin, sehingga nanti responsnya juga bisa lebih tepat,” kata Ganip.

Ganip menjelaskan bahwa informasi yang rinci akan memungkinkan diambilnya langkah-langkah di lapangan yang dapat menjadi model untuk penyelamatan dari ancaman bencana.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga mengingatkan putusnya rantai informasi peringatan dini sampai ke masyarakat harus segera diantisipasi saat menghadapi dampak La Nina. Terputusnya rantai informasi, kata dia, dapat menghambat kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana.

“Berdasarkan pengalaman beberapa kali terputusnya rantai informasi dari Pusdalops yang tidak bisa dilanjutkan dari pemda ke desa-desa terdampak atau rawan bencana hidrometeorologi,” kata Dwikorita.

BPBD se Indonesia Siaga Dampak La Nina

Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diminta siaga bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di 34 provinsi juga diminta siaga.

“Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina tahun 2020 menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan bulanan di Indonesia hingga 20 persen sampai dengan 70 persen dari kondisi normalnya,” ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi, Jumat (29/10/2021).

Prasinta menekankan bahwa peningkatan curah hujan itu berpotensi memicu terjadinya bencana hidrometeorologi. Menyikapi hal itu, ia mengimbau BPBD provinsi untuk mewaspadai dan menginstruksikan BPBD di tingkat kabupaten/kota melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan.

Upaya dini yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan koordinasi dengan BMKG di daerah serta pemantauan secara berkala informasi iklim dan perkembangan cuaca maupun peringatan dini cuaca ekstrem.

Selain itu, BPBD meningkatkan koordinasi antar dinas terkait untuk melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan sesuai tugas pokok fungsi dan kewenangannya. Kesiapsiagaan tidak hanya pada sisi pemerintah atau aparatur di tingkat kecamatan dan desa, tetapi juga masyarakat.

Prasinta menekankan perlunya dukungan BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di lokasi rawan bencana. BNPB mengharapkan BPBD menginformasikan sejak dini kepada warga untuk menjauh dari lembah sungai, lereng rawan longsor, pohon mudah tumbang atau pun tepi pantai.

Di sisi lain, Prasinta mengharapkan BPBD untuk melibatkan masyarakat dalam pengaktifan tim siaga bencana. Tim tersebut bertugas salah satunya memantau kondisi sekitar atau pun gejala awal terjadinya banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang, maupun berkoordinasi antar tim siaga di wilayah hulu dan hilir.

Sumber artikel “Prediksi Dampak La Nina dari BMKG & Pentingnya Peringatan Dini“,

TAK CUKUP SEMANGAT, TRC DAN PRR GELAR SRT WARMING UP DRILL

TAK CUKUP SEMANGAT, TRC DAN PRR GELAR SRT WARMING UP DRILL

Tak cukup berbekal semangat, TRC BPBD dan PRR saling menimba dan berbagi ilmu dalam “SRT Warming Up” Drill.

 

Suasana halaman belakang Pusdalops BPBD Kota Probolinggo tampak riuh. Beberapa orang relawan tampak sibuk menyiapkan peralatan untuk latihan pemanasan dengan teknik SRT atau Single Rope Technique pada Tree Climbing.

Bahri salah seorang TRC BPBD Kota Probolinggo yang mengikuti kegiatan ini menyampaikan bahwa latihan ini bertujuan untuk menyegarkan ingatan serta meningkatkan kemampuan relawan dalam menguasai tehnik penyelamatan (rescue) terutama untuk (tehnik vertical rescue).

“.. Sebenarnya (kegiatan/ latihan :red) ini untuk penyegaran dan menambah skill relawan dalam sebuah penyelematan” ujar bahri.

Sementara itu, latihan yang dipandu langsung oleh pelatih dari Probolinggo Response Rescue (PRR) juga melibatkan beberapa relawannya untuk bersama-sama menimba dan berbagi ilmu dalam materi kali ini.
Bang Ori – pelatih dalam kegiatan ini menyampaikan bahwa target latihan kali ini bagaimana seorang rescuer (penolong) mampu memahami dan mengaplikasikan tehnik SRT dalam kaitannya dengan Tree Climbing.
Tree Climbing adalah teknik memanjat pada pohon dimana pohon sebagai median dengan menggunakan tali sebagai alat bantunya.

Secara bahasa, Single rope technique (SRT) adalah Teknik satu tali. Single rope technique (SRT) bisa di maknai keahlian bergerak di lintasan vertical menggunakan satu tali.

Teknik-teknik yang digunakan dalam lintasan dalam SRT adalah ascending dan descending dengan penguasaan jenis-jenis variasi lintasan. Teknik ascending adalah meniti tali untuk naik ke atas dengan menggunakan alat. Sedangkan Teknik descending sendiri adalah Teknik menuruni tali dengan menggunakan peralatan descender.

Saat ditanya kendala dalam latihan ini, Umar salah seorang relawan PRR menyampaikan bahwa kendala saat alat yang tersedia minim dibutuhkan penguasan materi simpul, pun diperlukan pikiran yang tenang dan tidak panik.
“.. dalam kondisi alat terbatas kita harus mampu menguasai materi dan juga tidak mudah panik.. karena panik dapat membuat seorang rescuer (penolong) kehilangan kendali” ujar umar disela istirahatnya.

Dalam penguasaan Teknik ini terkadang juga dibutuhkan peralatan, keahlian dan Teknik khusus untuk mengakses area medan yang akan dilewati.
Perlunya penguasaan tehnik SRT ini memungkinkan relawan maupun petugas dapat mengevakuasi korban maupun kejadian pohon tumbang.

Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menyambut baik kegiatan bersama ini. Harapannya kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan agar sewaktu-waktu tim TRC dan relawan dibutuhkan dapat siap siaga bukan hanya untuk kebencanaan namun juga untuk kejadian darurat.
Menjadi relawan kebencanaan diharuskan mempunyai berbagai disiplin keilmuan menyangkut tentang kebencanaan dan pencarian serta pertolongan, sehingga ketika terjadi bencana maka relawan siap terjun ke daerah bencana. (cnn)