Gambar : BAKORWIL V dan BPBD Kota Probolinggo saat berada dilokasi evakuasiErupsi Gunung Semeru Kab. Lumajang

Bakorwil V Jember menekankan pentingnya mitigasi serta sosialisasi terkait potensi resiko di kawasan rawan bencana (KRB). Mengingat masih banyak warga masyarakat yang tidak mengindahkan himbauan petugas untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diperlukan seperti swafoto saat berada di lokasi KRB. Temuan ini didasari oleh pernyataan Kalaksa BPBD Kota Probolinggo saat turun ke lokasi bersama tim Relawan membantu proses evakuasi warga terdampak didusun Kajar Kuning Desa Sumber Wuluh Kec. Candipuro Kabupaten Lumajang.

“.. ini benar, dan memang seharusnya perlu adanya sosialiasi kepada semua pihak bahwa masih ada potensi resiko di area (kawasan) rawan bencana seperti ini. Maka saya mendukung dan mengapresiasi langkah Bapak (Kalaksa) bersama tim untuk membantu mengurangi resiko dengan cara membatasi ruang gerak siapapun yang tidak berkepentingan dikawasan ini yang telah ditetapkan sebagai Zona Merah..” ungkap Choirul Anwar Kabid. Pemerintahan Bakorwil V jember.

Senada dengan hal tersebut, Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menyampaikan bahwa saat ini sudah mulai muncul adanya fenomena “Wisata Bencana” yang dapat menimbulkan masalah karena mereka yang tidak mengetahui ada potensi bahaya saat berada dilokasi KRB.

Kalaksa bersama tim TRC BPBD dan relawan mengimbau warga atau siapapun yang tidak memiliki kepentingan, untuk meninggalkan area lokasi karena masih sangat membahayakan baik diri sendiri, petugas evakuasi korban dan dapat menimbulkan kemacetan dijalur evakuasi.

“Biasanya masyarakat yang datang ke lokasi daerah bencana bukan warga lokal. Saya meminta kepada mereka secara humanis yang nekat datang untuk putar balik bila tidak berkepentingan darurat karena itu sangat mengganggu petugas pencarian (SAR),” pungkasnya.

Sementara itu Satgas KAMDES Sumberwuluh membenarkan bahwasanya dilokasinya banyak pengunjung yang bukan warga lokal (terdampak) sebagian banyak yang foto-foto. Selain itu satgas juga mendapatkan laporan banyak asset warganya yang hilang mulai dari uang tunai, hewan ternak hingga perabot rumah.

Menurut data BNPB per 7 Desember 2021, Erupsi Gunung Semeru ini mengakibatkan 34 orang Meninggal Dunia, 17 orang dilaporkan (masih) hilang, dan 56 orang luka-luka. Dan menurut pantauan sementara tim dilapangan, banyak warga yang sudah mulai mengevakuasi harta benda termasuk hewan ternak. Mereka khawatir saat guguran awan panas selanjutnya para warga ini tidak dapat mengevakuasi harta bendanya karena sudah tertimbun debu vulkanik.

Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas Guguran Gunung Semeru menyebutkan bahwa warga yang mengungsi berjumlah 4.250 jiwa, yang tersebar pada beberapa titik di Kabupaten Lumajang dan hanya ada 1 titik, masing-masing di Kabupaten Malang dan Blitar.

Berikut ini rincian distribusi penyintas di beberapa wilayah Kabupaten Lumajang. Jumlah warga mengungsi di Kecamatan Candipuro 1.733 jiwa, Pasirian 974, Tempeh 400, Pronojiwo 295, Lumajang 199, Pasrujambe 197, Sukodono 191, Sumbersuko 67, Jatiroto 56, Yosowilangun 28, Ranuyoso 26, Rowokangkung 16 dan Gucialit 8.

Tim SAR gabungan masih melakukan operasi pencarian warga hilang. Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) di bawah koordinasi Basarnas ini menargetkan waktu pencarian korban selama satu minggu. Hal tersebut disampaikan Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf. Irwan Subekti dalam konferensi pers pada hari ini, Selasa (7/12).

Irwan Subekti yang juga menjadi Komandan Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Dampak Awan Panas Guguran Gunung Semeru menyampaikan korban yang masih dinyatakan hilang berjumlah 22 orang. Upaya pencarian difokuskan di Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh dan wilayah Desa Curah Kobokan. Lebih lanjut dalam operasi pencarian, Irwan mengatakan tim gabungan sangat memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan di lapangan.

“Pencarian pagi hingga sore dengan memperhatikan cuaca di Lumajang. Hampir setiap hari, setiap sore rata-rata turun hujan. Upaya pencarian sangat dipengaruhi kondisi hujan di lapangan,” ujarnya.

Upaya pencarian warga yang masih dinyatakan hilang akan mengoptimalkan kemampuan para personel di lapangan, yang juga dibantu dengan alat berat. Ia pun selalu mengingatkan kewaspadaan terhadap kondisi material vulkanik yang masih panas dan kondisi hujan di puncak gunung agar terhindar dari banjir lahar dingin.

Pada kesempatan itu, posko memprioritaskan pada operasi pencarian dan penanganan warga yang mengungsi. Terkait dengan penambang pasir yang hilang, pihaknya akan memastikan identitas korban yang saat ini masih dalam proses identifikasi. Dari jumlah korban meninggal sebanyak 34 orang, 10 di antaranya belum teridentifikasi. (CNN)

diolah dari berbagai sumber