Pelatihan Keamanan dan Keselamatan di Destinasi Pariwisata/ Daya tarik Wisata diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (DISPORA) Kota Probolinggo pada tanggal 24 – 25 Nopember 2021. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, motivasi, dan kemampuan para pengelola destinasi/ daya tarik wisata dalam melaksanakan keamanan dan keselamatan di destinasi/ daya tarik wisata. Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo, S.STP,. MM. dalam kesempatan tersebut memberikan materi tentang Potensi Bencana diKota Probolinggo.

“..Setidaknya ada 5 (lima) Potensi Bencana yang akan dihadapi oleh Kota Probolinggo, inilah yang menurut kami (BPBD) rekan-rekan pegiat destinasi wisata perlu siap siaga terhadap berbagai hal kemungkinan yang ditimbulkan oleh salah satu potensi bencana, misalnya (bencana) banjir..” ungkap Sugito.

Kalaksa juga menyampaikan bahwasanya pada saat ini merupakan masa dimana Indonesia mengalami fenomena alam yang dikenal dengan “LA NINA”. Yaitu kondisi (fenomena) dimana curah hujan cukup tinggi dan menurut prediksi BMKG Puncak curah hujan tertinggi akan terjadi pada bulan Februari hingga Maret 2022. Oleh karena itu kita semua perlu segera menyiapkan diri guna mengurangi resiko saat terjadinya bencana. Termasuk dalam hal ini para pengelola destinasi wisata.

“.. Salah satu upaya mengenali dan mempersiapkan diri untuk menghadapi bilamana bencana sewaktu-waktu terjadi adalah dengan BERSAHABAT dengan BENCANA…” imbuh Kalaksa.

 

Kasi Destinasi Wisata DISPORA Kota Probolinggo Endang Novi Atitik, S,Sos., MM. mengungkapkan pelatihan yang diselenggarakan di Bale Hinggil ini melibatkan perwakilan pengelola tempat wisata dan kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang ada di Kota Probolinggo. Novi menyebutkan, pelatihan ini diharap dapat meningkatkan skill pengelola wisata dan pokdarwis dalam menjaga kenyamanan dan keselamatan para wisatawan serta menciptakan iklim yang membuat wisatawan ingin kembali lagi berwisata di Kota Probolinggo.

“Kegiatan ini kami gelar hingga 2 (dua) hari ke depan. Harapannya adalah bagaimana pengelola pariwisata yang ada bisa memahami dalam memberikan pelayanan, keamanan, keselamatan yang maksimal kepada wisatawan. Kami berharap setelah pelatihan ini selesai, mereka sudah dapat menerapkan ilmu yang mereka dapatkan disini,” jelas Novi.

PRAKTISI “KESELAMATAN & KEBENCANAAN” BERI PENGUATAN MATERI TENTANG SOP

Sementara itu, DISPORA turut menghadirkan praktisi yang memiliki kompetensi tentang Rescue (penyelematan) dan pemerhati masalah Kebencanaan Mohammad Anshori. Trainer Level 4 BNSP ini memberikan materi tentang Standart Operational Procedure (SOP) untuk destinasi wisata. Bang Ori – sapaan akrabnya menjelaskan bahwa SOP untuk tempat wisata harus merujuk pada perundang-undangan yang berlaku. Sementara itu banyak lokasi atau destinasi wisata di Kota Probolinggo yang belum melengkapi administrasi tata kelola salah satunya adanya SOP. Sehingga jika suatu tempat wisata terjadi sebuah kejadian yang mengakibatkan pengunjung wisatanya terdampak akan membuat pengelola (tempat wisata) kesulitan mengaudit sistem pengelolaan.

Dalam pelatihan kali ini, Bang Ori menjelaskan perlunya disusun sebuah SOP pengelolaan destinasi wisata yang bertujuan memberikan rasa aman dan nyaman pengunjung destinasi wisata.

Lebih lanjut Ori mengatakan, keamanan dan keselamatan menjadi hal yang penting, sebab dapat menarik daya tarik wisata. Jika wisatawan merasa aman selama di lokasi wisata, tidak akan menutup kemungkinan mereka akan datang kembali.

“Namun jika sebaliknya mereka tidak merasa aman maka mungkin mereka tidak akan datang kembali” katanya.

 

KUNJUNGAN LAPANGAN KE SUMBER SENTONG

Pada keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan dengan praktek dan diskusi terkait materi yang disampaikan oleh BPBD dan narasumber lainnya. BPBD menerjunkan tim TRC dan relawan memberikan praktek penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Masing-masing peserta diberikan kesempatan untuk mencoba memadamkan api dengan menggunakan APAR didampingi oleh instruktur dari BPBD.

Sementara itu Mohammad Anshori yang juga Relawan dari Probolinggo Response Rescue (PRR) memberikan materi praktek “Penyelamatan di Air” atau lebih dikenal dengan Water Rescue. Peserta diberikan penjelasan bagaimana cara menyelamatkan korban di air dengan mengunakan alat bantu penyelamatan. Diakhir sesi kegiatan, dilakukan sharing session terkait materi Keselamatan dan Keamanan Di Destinasi Pariwisata. (CNN)