Tim Ahli UB beri pendampingan UMKM dan Keltana Kota Probolinggo

Tim Ahli UB beri pendampingan UMKM dan Keltana Kota Probolinggo

Pada Rabu, 9 November 2022, beberapa ahli dari Sekolah Pascasarjana melanjutkan materi yang lebih difokuskan pada pemberian pelatihan dengan tema umum “Pelatihan Penguatan Kapasitas Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) untuk Peningkatan Ketahanan Lingkungan, ekonomi dan Sosial Masyarakat terhadap Bencana di Kota Probolinggo”. Tiga pelatihan ini diampu oleh akademisi berkompeten diantaranya Prof. Amin Setyo Leksono, Ph.D, Prof. Dr. Ir. Harsuko Riniwati, MS, dan Fitri Candra Wardana, SE., M.Acc.,Ph.D.


Kegiatan yang menyasar pada pelaku usaha (UMKM) serta anggota FPRB ditingkat kelurahan dilaksanakan di kantor BPBD Kota Probolinggo diharapkan dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan penjalin kerjasama yang lebih baik antara Kota Probolinggo dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya dalam menyongsong era pasca-pandemi Covid 19.
Asisten Pemerintahan Pemkot Probolinggo Ir. Gogol Sudjarwo, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan harapan Pemerintah Kota Probolinggo agar kegiatan (Diklat & Pendampingan) seperti ini tidak cukup berhenti disini namun juga berharap kedepan BPBD maupun kalangan akademisi dapat senantiasa menyusun program lanjutan secara berkesinambungan.


Senada, Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menyampaikan bahwa Tim DOKAR Sekolah Pascasarjana UB ini terdiri dari para Profesor dan Dosen yang berkompeten di bidang Ekonomi, UMKM, penanggulangan bencana, termasuk di antaranya penanganan pasca-pandemi COVID-19. Dalam era Industri 4.0, dosen bukan hanya dituntut ahli dalam mengajarkan, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat tetapi juga dituntut untuk mampu memiliki networking yang luas dan pengalaman kerja di luar kampus. (CNN)

GERKATIN JATIM : Kami siap untuk SELAMAT

GERKATIN JATIM : Kami siap untuk SELAMAT

 

Kedopok – Kekurangan pada diri para relawan ini tak menyurutkan langkah mereka untuk meningkatkan kapasitas diri dibidang Kebencaan. Relawan yang memiliki keterbatasan pada indera pendengaran dan wicara ini berada dalam naungan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia). Pada hari sabtu (25/06/2022) lembaga ini menyelenggarakan kegiatan “PELATIHAN PENGURANGAN RESIKO BENCANA (PRB) INKLUSIF” bertempat diaula BPBD Kota Probolinggo.

Kegiatan yang diinisiasi oleh GERKATIN DPD Jatim melibatkan setidaknya 40 peserta (relawan) dari berbagai kota di Jawa Timur. GERKATIN merasa perlu mengadakan kegiatan ini karena dirasa hingga saat ini belum banyak pihak yang peduli terhadap kaum difabel terutamanya saat dalam kondisi suatu bencana. Dalam pelatihan ini diharapkan para relawan GERKATIN memahami posisi dirinya dan dapat membantu sesama disaat bencana terjadi.

“.. Kami (GERKATIN :red) merasa bersyukur atas terselenggaranya kegiatan ini, semoga kami dapat belajar dan memahami apa yang harus kami lakukan jika bencana terjadi ” ungkap Yuyun selaku Ketua DPD GERKATIN Jatim.

Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menyambut baik kegiatan Pelatihan ini. Kalaksa berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan guna membantu masyarakat yang tergolong difabel dalam menghadapi suatu  bencana.

Sementara itu Forum PRB Jawa Timur diwakili oleh Catur Sudarmanto, S.Sos., M.M.B menyampaikan bahwa pelatihan ini sejalan dengan program FPRB Jawa Timur yakni SDSB (Sambang Dulur Sinau Bareng). Program mengunjungi anggota yang tersebar diberbagi daerah sembari saling membagi ilmu terkait segala hal yang berkaitan dengan pengurangan resiko bencana. Mbah Darmo – panggilan akrabnya yang juga Sekjen FPRB Jawa Timur menyampaikan bahwa program (sinergi dengan kaum difabel) ini baru pertama kali diselenggarakan di Jawa Timur dan beliau berharap kegiatan semacam ini dapat dijadikan contoh dan diselenggarakan dikota-kota lain di Jawa Timur.

Peserta pelatihan mendapatkan materi “Manajemen Penanggulangan Bencana“, “Pertolongan Pada Gawat Darurat” serta praktek “Simulasi Bencana” yang keseluruhan materinya diberikan oleh instruktur pada Forum PRB Jawa Timur. Disela-sela kegiatan para peserta berkunjung ke ruang Pusdalops PB BPBD Kota Probolinggo. Para relawan ini  mendapatkan penjelasan mengenai kegiatan apa saja yang dilakukan oleh operator Pusdalops terkait pemantauan instrumen Gempa, Curah Hujan, hingga kondisi air laut.

Hingga berakhirnya kegiatan para peserta tampak sekali antusias dan menyatakan puas atas terselenggaranya kegiatan ini. Mereka berharap dapat bertemu kembali disesi pelatihan yang lain. (CNN)

Antisipasi Dini Bencana Alam, BPBD Kota Probolinggo telah membentuk 19 Kalurahan Tanggap Bencana

Antisipasi Dini Bencana Alam, BPBD Kota Probolinggo telah membentuk 19 Kalurahan Tanggap Bencana

Mayangan – Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan dini menghadapi bencana, BPBD Kota Probolinggo hingga tahun 2022 ini setidaknya telah membentuk 19 Kelurahan Tangguh Bencana (Kaltana) dari 29 Kelurahan dan terbagi di 5 Kecamatan se Kota Probolinggo.

Berdasarkan Perka BNPB Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana/Katana) adalah desa/kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dalam menghadapi potensi ancaman bencana. Desa/kelurahan ini juga mampu memulihkan diri dengan segera dari dampak-dampak bencana. Sebuah Desa disebut mempunyai ketangguhan terhadap bencana ketika desa tersebut memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisasikan sumber daya masyaraka untuk mengurangi kerentanan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana.
Pembentukan Kaltana lebih difokuskan pada kelurahan yang memiliki potensi bencana lebih besar. Prioritas ini dilakukan agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana yang bisa muncul sewaktu-waktu. Dalam pembentukan, seluruh perangkat kelurahan diajak untuk memetakan kemungkinan bencana yang bisa saja terjadi di wilayahnya. Mereka juga diberikan pembekalan tentang bagaimana menghadapi situasi kebencanaan serta pelatihan untuk melakukan pengurangan resiko bencana. Kegiatan tersebut meliputi simulasi bencana, pembentukan rencana penanggulangan bencana, penyusunan rencana kontinjensi serta pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di kelurahan masing-masing.

Sementara itu menurut data BPS, Kota Probolinggo memiliki 5 Kelurahan Pesisir yang terletak di 2 kecamatan yakni kecamatan Pilang dan Kecamatan Mayangan yang berpotensi terkena bencana air rob (gelombang pasang) dan bencana lainnya.

“Hampir semua kelurahan (di Kota Probolinggo) memiliki potensi bencana, dari banjir, kebakaran, angin kencang hingga pohon tumbang,” kata NurCholiq Kasi Pencegahan & Kesiapsiagaan BPBD Kota Probolinggo.

Pemkot Probolinggo juga telah menyiapkan anggaran penanganan bencana melalui dana Biaya Tak Terduga (BTT) dari alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Anggaran tersebut dapat dikeluarkan sesuai kebutuhan dan bisa dialokasikan untuk berbagai upaya penanganan serta mitigasi kebencanaan. Dana tersebut disiapkan untuk penanganan berbagai macam bencana. Salah satunya fenomena La Nina yang diprediksi bisa terjadi sampai pertengahan tahun nanti.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menyampaikan bahwa pada tahun 2022 ini selain senantiasa meningkatkan sinergi lintas OPD bidang kedaruratan, BPBD juga tengah menyiapkan personil terlatih serta didukung peralatan guna membantu evakuasi sewaktu-waktu. (CNN)

Puluhan anggota FPRB Kel Wiroborang kunjungi Pusdalops PB BPBD Kota Probolinggo

Puluhan anggota FPRB Kel Wiroborang kunjungi Pusdalops PB BPBD Kota Probolinggo

 

Probolinggo – Pada hari Sabtu (12/03/2022) sekitar pukul 09.00 WIB sekelompok orang memasuki halaman kantor BPBD Kota Probolinggo menumpang beberapa kendaraan. Ya, mereka tak lain adalah anggota masyarakat yang tergabung dalam Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kelurahan Wiroborang Kec. Mayangan Kota Probolinggo. Para anggota masyarakat ini sejatinya sedang mengikuti rangkaian acara pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana Tahun 2022.

Dalam kunjungan ini, rombongan didampingi lurah Wiroborang Firman Wigahadi Pratama, SSTP.  bersama Fasilitator Kegiatan FPRB Kota Probolinggo Eko Yudha. Rombongan disambut langsung oleh Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo serta turut mendampingi Kasi. P/K dan Kasi K/L BPBD Kota Probolinggo.

Ditengah suasana hangat dan bersahaja Kalaksa menyampaikan sambutan SELAMAT DATANG serta memberikan motivasi kepada peserta yang hadir serta menjelaskan bagaimana BPBD Kota Probolinggo memiliki rintisan Pusdalops PB Mandiri.

 

Setelah para peserta memasuki ruang Pusdalops, Kalaksa melanjutkan memberikan penjelasaan mengenai instrumen dan juga fasilitas yang dimiliki oleh Pusdalops PB diantaranya instrumen mitigasi bencana hingga Laporan Kejadian Bencana di Kota Probolinggo.

Tak cukup hanya pemaparan mengenai fungsi dan peran Pusdalops PB, para peserta antusias menyimak dan banyak yang mengajukan pertanyaan kepada Kalaksa.

Agenda “ngulik” ruang Pusdalops PB dilanjutkan dengan menyaksikan demonstrasi relawan dan TRC dalam “SRT” tehnik Rescue untuk pertolongan dan penanganan kejadian bencana.

Dipandu oleh instruktur Rescue BPBD Kota Probolinggo Moh. Ansori, para peserta mendapatkan penjelasan mengenai Keselamatan Diri serta pentinganya menggunakan Standar Keselamatan dalam sebuah penanganan kejadian bencana. Berbagai peralatan rescue yang dimiliki oleh BPBD Kota Probolinggo turut ditampilkan dalam kegiatan ini.

Bang Ori demikian sapaan akrabnya menjelaskan pentingnya memahami prinsip dasar keselamatan.

“Pertama, pentingnya memastikan keselamatan diri sendiri lalu orang lain hingga yang terakhir adalah korban” papar Bang Ori.

Bapak Sukotjo salah satu peserta pembentukan Keltana Kelurahan Wiroborang menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya telah dibangunnya Pusdalops PB serta memliki relawan-relawan tangguh khususnya dibidang Rescue atau Penyelamatan. Harapannya semoga di Kota Probolinggo para warganya mengerti bagaimana “Bersahabat dengan Bencana” dan Kota Probolinggo terhindar dari marabahaya yang dapat menimbulkan banyak korban jiwa dan materi. (CNN)

Antisipasi Bencana, BPBD Kota Probolinggo menyiagakan Relawan Khusus dan Terlatih

Antisipasi Bencana, BPBD Kota Probolinggo menyiagakan Relawan Khusus dan Terlatih

Berdasarkan rilis dari BMKG, pihak yang berwenang dibidang meterologi dan geofisika ini meminta masyarakat luas mewaspadai terjadinya perubahan iklim, khususnya di Tanah Air. Bencana alam hidrometeorologi di Indonesia meningkat cukup signifikan akibat perubahan iklim.

Bencana hidrometeorologi disebabkan oleh kondisi cuaca dan perubahan iklim. Kondisi tersebut diperparah dengan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menunjukkan bahwa 99% bencana yang terjadi di Indonesia adalah hidrometeorologi.

“Hujan ekstrim yang sangat lebat menyebabkan terjadinya banjir, puting beliung, dan tanah longsor. Lalu, ada juga gelombang pasang dan abrasi,” jelasnya dalam webinar Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim: Mengurangi Kerugian Ekonomi Akibat Dampak Iklim, Senin (11/10/2021).

Dijelaskan bahwa bencana hidrometeorologi memiliki berbagai parameter. Ada peningkatan dan penurunan curah hujan hingga suhu dan cuaca ekstrim.

Oleh karena itu, bencana hidrometeorologi juga dapat menyebabkan bencana kekeringan ekstrim. Contohnya adalah kebakaran hutan dan lahan dan kekeringan lain.

“Semua bencana alam tersebut tak terlepas dari faktor pengendali iklim atau cuaca. Kondisi ini juga korelatif dengan meningkatnya suhu global. Dampak ini pun sifatnya tak hanya lokal, tetapi bisa regional bahkan global,” ungkapnya.

Suhu udara diproyeksikan meningkat 0,5 celcius pada 10 tahun mendatang. Curah hujan pada musim kemarau diproyeksikan semakin berkurang sekitar 20%. Untuk musim kemarau di masa mendatang akan terasa lebih panas dan kering.

Sementara jumlah hujan pada periode musim hujan tidak banyak berubah, tetapi jumlah hari hujan lebat meningkat dan ekstrem serta intensitasnya semakin sering. Hal ini berpotensi meningkatkan bencana hidrometeorologi.

“Maka dari itu pengendalian banjir atau bencana hidrometeorologi lainnya harus mempertimbangkan kondisi iklim saat ini serta proyeksi iklim kedepan harus dipertimbangkan dalam membangun infrastruktur pengendalian banjir dan infrastruktur pendukung lainnya,” tutup Ibu Dwikorita.

Guna merespon hal itu, Pemerintah Kota Probolinggo bersama forkompinda melaksanakan Apel Gelar Pasukan Dalam rangka Antispisasi Bencana Alam dengan mengumpulkan puluhan personil dan peralatan pendukung Operasi Kedaruratan. Puluhan personil TNI & Polri didukung dengan DISHUB, POL-PP, Dinas PU hingga Relawan Tagana, PMI dan anggota Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB). Apel yang digelar pada hari Senin 25 Oktober 2021 dilaksanakan dihalaman Kantor BPBD Kota Probolinggo dengan Inspektur Upacara Ir. Gogol Sudjarwo, M.Si. mewakili Walikota Probolinggo. Turut hadir bersama unsur forkopimda Kapolres Probolinggo, Komandan Kodim 0820 Probolinggo serta OPD terkait.

Dalam Sambutannya, Gogol menyampaikan sambutan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indah Parawansa. Setidaknya ada 8 Poin yang ditekankan guna mempersiapkan dan mengantisipasi bencana di wilayah masing-masing, diantaranya :

  1. Meningkatkan Sinergitas antar stake holder dalam rangka upaya pencegahan, mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
  2. (segera) Menyusun rencana kontijensi yang disesuaikan dengan tata kelola  kedaruratan protokol kesehatan.
  3. Melakukan pendekatan secara preemtif kepada masyarakat terkait peran serta dalam menghadapi bencana alam.
  4. Menyiapkan mental fisik yang prima serta dilandasi komitmen moral yang tinggi dan displin kerja yang tinggi, menghindari ego sektoral dalam menangani bencana alam.
  5. Menyiapakan Lokasi Pengungsi dan Jalur Evakuasi
  6. Melaksanakan Pelatihan secara Intens dan terpadu.
  7. Mengecek secara intens dan berkala terhadap seleuruh peralatan SAR agar siap saat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam.
  8. Tetap menjaga kesehatan dan tetap berpedoman pada protokol kesehatan dalam pelaksanaan tugas.

Selain pengerahan pasukan, Apel Siaga ini juga mengerahkan sarana dan prasarana pendukung tanggap darurat seperti AWC (armor water canon) milik Polres Probolinggo Kota. Sementara itu BPBD menurunkan beberapa personil relawan, logistik kebencanaan hingga armada pendukung kedaruratan. Dalam situasi khusus BPBD Kota Probolinggo dapat menerjunkan SATGAS Relawan yang memiliki kemampuan khusus dan terlatih. Satgas ini memiliki kecakapan khusus dibidang pertolongan di air atau lebih sering dikenal dengan Water Rescue. Personil ini dibekali ketrampilan dan Alat Perlindungan Diri guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti Multitools, Tali, hingga pelampung.

Dalam kesempatan sebelumnya, pada hari Minggu 24 Oktober 2021 Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo mengadakan kegiatan “BASIC RESCUE TRAINING” bertempat di Taman Manula Kota Probolinggo. Kegiatan yang menitikberatkan pada penjaringan kawula muda yang tertarik dibidang kebencanaan ini mengajak setidaknya 50 orang pelajar maupun aktivis pencinta alam yang ada di kota Probolinggo.

Hadir dalam pelaksanaan tersebut, Asisten 1 bidang Pemerintahan Ir. Gogol Sudjarwo, M.Si. turut mendampingi Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo — Yoyok Sudarmanto selaku Sekjen PRB Jawa Timur serta perwakilan forkompimda Kota probolinggo.

Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) ini merupakan Agenda yang telah terpogram sebelumnya. Dan sebagaimana harapan Walikota bahwa acara seperti ini sangat baik dan senantiasa terus diselenggarakan sebagai wadah generasi muda yang bakal menjadi calon relawan kebencanaan. (CNN)