KEDOPOK - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo terus memperkuat upaya pencegahan banjir melalui inovasi Gerakan Gotku Resik, sebuah layanan kolaboratif yang memudahkan masyarakat melaporkan saluran drainase tersumbat sekaligus mengajak warga terlibat dalam kegiatan pembersihan lingkungan.
Inovasi yang mulai diterapkan sejak tahun 2024 ini ini dikembangkan BPBD Kota Probolinggo sebagai bentuk pelayanan publik non-digital berbasis partisipasi masyarakat. Melalui Gotku Resik, warga cukup mengirimkan foto atau video kondisi saluran yang tersumbat melalui layanan WhatsApp BPBD untuk selanjutnya diverifikasi dan dijadwalkan penanganannya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo, Boedi Harjanto, mengatakan bahwa Gotku Resik lahir dari kebutuhan akan sistem penanganan yang lebih cepat, transparan, dan melibatkan masyarakat secara aktif. “Gotku Resik bukan sekadar kegiatan membersihkan saluran, tetapi gerakan bersama untuk membangun kepedulian warga terhadap lingkungan. Ketika masyarakat dapat melaporkan kondisi drainase secara cepat, kami juga bisa merespons lebih efektif sehingga risiko genangan maupun banjir dapat ditekan,” ujar Boedi Harjanto.
Menurut BPBD, sebelum inovasi diterapkan penanganan saluran tersumbat masih bersifat reaktif dan umumnya dilakukan setelah adanya pengaduan dengan dokumentasi yang terbatas. Kini proses tersebut berubah menjadi layanan yang lebih responsif melalui pelaporan berbasis WhatsApp, penilaian tingkat urgensi, penjadwalan pembersihan, hingga dokumentasi hasil kegiatan yang dipublikasikan secara terbuka.
Gerakan ini juga menjawab persoalan nyata di Kota Probolinggo. Hasil monitoring BPBD pada 2023–2024 mencatat 112 titik saluran lingkungan mengalami pendangkalan dan penyumbatan, yang menyebabkan genangan lebih cepat terjadi saat hujan. Keterbatasan petugas menjadi alasan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, kelurahan, relawan, dan masyarakat. "Dengan kolaborasi ini diharapkan pula, masyarakat yang telribat menjadi lebih peduli pada lingkungannya," jelasnya
Melalui Gotku Resik, BPBD menargetkan peningkatan kecepatan respons laporan, penguatan koordinasi lintas pemangku kepentingan, serta pengurangan risiko banjir secara preventif. Hasil awal inovasi menunjukkan waktu penanganan laporan berhasil dipangkas dari rata-rata 7 hari menjadi maksimal 2 hari kerja, disertai meningkatnya kegiatan pembersihan saluran secara rutin dan terbentuknya tim kolaboratif warga di tingkat kelurahan. "Dalam praktiknya, dengan kolaborasi kuat antara BPBD dengan warga termasuk pihak kelurahan, kegiatan ini bisa selesai dalam waktu satu hari," jelasnya
Kepala BPBD Kota Probolinggo ini pun berharap Gerakan Gotku Resik menjadi budaya gotong royong baru dalam menjaga kebersihan drainase lingkungan, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi pelapor, tetapi juga menjadi bagian dari solusi mewujudkan Kota Probolinggo yang tangguh terhadap bencana. "Karena lebih baik mencegah sebelum bencana itu benar-benar datang dan menimbulkan kesengsaraan," pungkasnya. (*)
