Suhu di wilayah Kota Probolinggo terasa dingin saat di musim kemarau, ini penjelasannya !

Sebagian besar masyarakat Kota Probolinggo merasakan suhu di wilayahnya cenderung terasa dingin terutama saat di malam hari. Sementara itu kondisi tiupan angin juga dirasakan cukup kencang. Bagaimana penjelasan mengenai fenomena klimatologi yang terjadi hingga sepekan kedepan ? berikut penjelasan yang dapat dihimpun Pusdalops PB BPBD Kota Probolinggo.

Kedopok - Sebagian besar masyarakat Kota Probolinggo merasakan suhu di wilayahnya cenderung terasa dingin terutama saat di malam hari. Sementara itu kondisi tiupan angin juga dirasakan cukup kencang. Bagaimana penjelasan mengenai fenomena klimatologi yang terjadi hingga sepekan kedepan ? berikut penjelasan yang dapat dihimpun Pusdalops PB BPBD Kota Probolinggo.

Wilayah Kota Probolinggo berada pada posisi di selatan garis ekuator (khatulistiwa) dimana secara umum wilayah di selatan Khatulistiwa sedang mengalami musim kemarau akan merasakan suhu udara lebih dingin ketimbang wilayah di utara Khatulistiwa. Fenomena iklim dengan suhu udara dingin sering disebut dengan "Bediding". Untuk kondisi angin yang bertiup cukup kencang di Musim kemarau ini, masyarakat Kota Probolinggo mengenalnya sebagai "Angin Gending".

BACA JUGA  Mengapa Suhu (lebih) dingin dimalam hari dan Bagaimana Kiat Jaga Kondisi saat Musim Kemarau

Apa Itu Fenomena Bediding?

Melansir dari detik.com, BMKG dalam rilisnya menjelaskan bahwa istilah bediding dalam bahasa Jawa (bedhidhing) untuk menyebut perubahan suhu udara yang mencolok, khususnya yang terjadi di awal musim kemarau. Suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi, sementara di siang hari suhu udara melonjak hingga panas menyengat.

BMKG menjelaskan bahwa fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau, yakni di bulan Juli sampai September. Periode ini ditandai pergerakan angin dari arah timur, yang berasal dari Benua Australia (angin monsun Australia).

Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera India yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih rendah (dingin). Sehingga mengakibatkan suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa juga terasa lebih dingin.

Dampaknya, meskipun sedang dalam periode musim kemarau, namun suhu udara terasa dingin. Hal ini penyebab dari aliran angin monsun Australia yang lebih dominan, yang mana memengaruhi penurunan suhu udara, terutama saat menjelang malam hingga pagi hari.

Di pagi hari cenderung lebih dingin namun pada siang hari udara akan terasa lebih panas. Hal ini karena ketiadaan awan dan juga kurangnya uap air saat musim kemarau yang menyebabkan radiasi langsung matahari akan lebih banyak pula yang mencapai permukaan bumi.

Fenomena ini umumnya terjadi di wilayah Indonesia dekat khatulistiwa hingga bagian utara. Wilayah yang berpotensi atau biasanya terdampak yaitu Pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara. Dan berlangsung saat menuju puncak musim kemarau, seperti di bulan Juli, Agustus, hingga September.

Angin Gending

Fenomena alam yang biasa terjadi di Bulan Juli adalah Angin Gending.  Angin Gending merupakan angin yang berhembus dengan kecepatan berkisar 20-30 knot atau 17-31 km/jam yang dipengaruhi oleh adanya perbedaan suhu udara antara daerah dataran tinggi dengan dataran rendah atau pesisir. Angin Gending disebut-sebut merupakan angin lokal yang hanya berhembus di wilayah Probolinggo. 

Padahal, dalam ilmu klimatologi, Angin Gending termasuk dalam jenis angin geurutee atau angin fohn yang sebenarnya juga terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia dengan skala yang memang tidak terlalu luas. 

Bulan Juli adalah masa-masa awal berhembusnya Angin Gending. Biasanya, angin ini akan memasuki puncaknya pada bulan Agustus dan terus berhembus selama musim kemarau. 

Adapun nama Gending sendiri merupakan sebuah nama daerah di Probolinggo yang diyakini menjadi asal dari angin tersebut. Secara geografis, Gending memang menjadi perbatasan antara dataran rendah dan dataran tinggi.

 Angin Gending sifatnya panas dan kering. Walaupun sejenak dapat menyejukkan suasana dan mengurangi panasnya udara, angin Gending ternyata cukup berbahaya. Angin satu ini dapat merusak tanaman di ladang ataupun sawah, menyebabkan pohon tumbang, bahkan berisiko menimbulan penyakit pernapasan. Selain itu, hembusan Angin Gending yang ekstrem juga akan membuat nelayan berpikir dua kali sebelum pergi melaut.(CNN)

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT